Long Story (not) Short

Hello!

Disclaimer : This post will be in Indonesian.

Aku sadar aku jarang sekali menulis, karena memang tidak banyak hal menarik yang dapat kutulis dalam situasi pandemi ini, karena aku benar-benar diam di rumah. Kalaupun aku menulis, tulisan itu tidak jauh dari bayang-bayang pandemi. Sedihnya.

Seperti yang kalian tahu, aku adalah pekerja kantoran. Ya, walaupun tidak masuk setiap hari karena peraturan pemerintah tidak mengijinkan karyawan masuk 100%. Kami masuk selang seling, bergantian, hari ini work from home, besok work from office, begitu seterusnya. Dan aku sudah dipasangkan dengan teman 1 divisiku yang memang tinggal dekat denganku, tentu aku setuju karena lebih efisien dan ekonomis.

Berkaitan dengan melonjaknya kasus covid-19 dengan varian baru, entah Delta atau Kappa karena sejujurnya aku bingung yang mana Delta dan yang mana Kappa (sungguh gejalanya tidak jauh berbeda), divisi kami memutuskan untuk membeli Air Purifier dengan UV Filter sendiri, karena memang tidak disupport kantor. Apa yang membuat kami memutuskan untuk membeli barang tersebut bukanlah klaim bahwa barang tersebut dapat membunuh virus. Sejujurnya kami skeptis tentang klaim tersebut. Kami membelinya untuk menenangkan diri sendiri, harus mensugesti diri dengan hal-hal positif, kan? Lalu barang tersebut datang di siang hari, kami langsung membawanya ke atas dan menyalakannya. Terasa lebih aman, dalam pikiran kami. Esok harinya aku dan partner berangkat kerjaku memutuskan untuk membeli Air Purifier tersebut untuk di rumah kami, benar-benar terasa seperti sultan di masa pandemi yang sulit ini.

Namun yang tidak kami ketahui… virus tersebut sudah menempel dari sebelum kami membeli barang tersebut, entah dari mana dan dari siapa. Air purifier kami beli tanggal 1 Juli 2021, tiba-tiba tanggal 2 Juli 2021 partnerku mengabarkan bahwa ia sekeluarga sedang pergi Swab Antigen sekaligus PCR karena 2 anggota keluarganya ada yang positif covid. DEG! Langsung kuteringat akan semua dosa-dosaku. Flashback. Lebay memang, tapi itu memang terjadi, mengingat aku termasuk orang yang mudah tertular sakit. Hasil swab antigen temanku menyatakan bahwa ia dan ibunya positif covid. Sementara hasil PCR masih belum keluar. Langsung aku book untuk Test PCR di tanggal 3 Juli 2021, karena saat temanku mengabarkan sudah terlalu malam dan tidak ada lab yang buka. Oh ya, saat itu adalah saat-saat tingginya angka positif covid-19 dan kami berada di antaranya, jadi kami sangat memaklumi hasil tes yang agak lama.

Keesokan harinya, tanggal 3 Juli 2021, aku berangkat pergi tes di jam 12 siang. Hasil tes PCR normalnya keluar jam 3 sore, karena aku mengambil paket 3 jam. Namun lagi-lagi karena tingginya angka positif covid, hasilnya tidak keluar jam 3 sore. Sementara menunggu hasil, dari jam 12 sampai jam 3 aku menunggu di taman dekat tempat tinggalku, taman yang sangat sepi makanya aku berani duduk di situ dengan tetap menggunakan 2 lapis masker. Jujur aku tidak berani masuk ke dalam rumah karena entah kenapa aku agak yakin hasilnya positif. Setelah 7 jam menunggu tanpa hasil, akhirnya adikku mengirim pesan agar aku pulang saja dan diam di satu kamar dengan tetap menggunakan masker.

Lalu pada jam 10 malam, hasil PCRku keluar. Positif. Aku tidak kaget, karena memang sudah menyangka akan positif. Setelah itu aku meminta seluruh anggota keluargaku untuk pergi PCR.

Aku tidak bergejala apapun. Tidak demam/batuk/pilek/pegal-pegal/mata merah/sakit kepala. Tidak ada sama sekali. Apalagi anosmia. Kalau aku tidak pergi PCR setelah temanku dinyatakan positif, aku tidak akan tahu aku positif juga. Benar-benar OTG (Orang Tanpa Gejala). Bahkan hingga hari ini, saat aku menulis post ini.

Esok hari setelah aku makan pagi, aku pergi untuk isolasi mandiri di hotel selama 2 hari, sementara menunggu hasil PCR keluargaku. Hasilnya keluar pada esok harinya, 1 adikku dinyatakan positif sementara ayah, ibu, dan adik laki-lakiku dinyatakan negatif. Puji Tuhan, aku benar-benar khawatir akan hasil kedua orang tuaku. Pada akhirnya aku dan adikku isolasi mandiri bersama di apartemen, sementara yang lain tetap di rumah.

Walaupun tidak ada gejala, kami tetap konsultasi ke dokter untuk meminta obat atau vitamin yang harus diminum. Aku menggunakan aplikasi Halodoc, karena pergi ke klinik ataupun rumah sakit sudah sangat tidak memungkinkan. Kami dapat obat-obat yang seharusnya tidak sulit dan tidak mahal… Azithromycin. Namun kembali lagi, karena tingginya angka positif covid pada saat itu, maka toko-toko banyak yang memanfaatkan situasi tersebut. Di awal tahun aku membeli Azithromycin dengan harga kurang dari Rp 2.000,- per tablet, kali ini kubeli dengan harga Rp 27.500,– per tablet. Tapi karena memang butuh, maka apa boleh buat. Dan di saat itu pemerintah belum menyediakan layanan obat gratis… sedihnya 😥

Perlu dicatat, aku anak rumahan, yang benar-benar tidak pergi ke luar rumah kecuali ke kantor. Di kantor pun aku tidak melepas masker kecuali saat makan dan atau minum, dan itu pun tidak di saat yang bersamaan dengan temanku. Datang ke kantor, kami semprot seluruh badan dan barang kami dengan alkohol. Begitu juga saat kami pulang ke rumah. Semua paket kami semprot. Kami juga tidak kumpul-kumpul, bahkan dengan keluarga yang tidak serumah.

Maka dari itu, kalau ditanya kira-kira kena di mana dan atau dari siapa?

Sedihnya, kami tidak tahu, karena kami termasuk golongan taat prokes.

Yang kami tahu adalah virus covid-19 varian baru ini lebih cepat menular.

Jujur aku masih heran dengan orang-orang yang menganggap covid ini tidak ada dan tidak memakai masker. Dan juga orang-orang yang masih menyebarkan hoax yang menyebabkan orang lain takut divaksin, takut PCR, dan merasa dicovidkan.

Yuk, sini aku kasih hembusan nafas. Aku ikhlas.

Aku tidak ada masalah dengan pedagang-pedagang yang masih berjualan, itu bukan urusanku, aku tidak menafkahi mereka. Tapi tolong lah taati prokes. Kalau kalian menaati prokes, kalian bisa berjualan lebih lama dan mendapat uang lebih banyak. Logikanya kalau kalian tetap hidup, akan tetap bisa berjualan dan mencari uang, bukan?

Teruntuk orang-orang yang masih nongkrong dengan alasan “Bosan”. Hey, lebih baik nongkrong di rumah daripada nongkrong di ICU, itu pun kalau dapat slot ya. Jangan merasa sombong kalau kamu mungkin punya uang berlimpah maka bisa kapan saja mendapatkan bed di rumah sakit. Belum tentu, Darling.

Dan teruntuk orang pribadi (di luar lembaga kesehatan, kantor, dan lembaga masyarakat) yang menimbun obat dan alat kesehatan. Memang, keuntungannya banyak sekali, bisa jadi kaya mendadak. Coba buka mata kalian, banyak orang di luar yang tidak tertolong karena tidak mampu membeli obat yang kalian timbun dan kalian naikkan harganya dengan sangat fantastis.

Ucapan “Terima kasih orang baik” itu seharusnya tidak ditujukan kepada Louis Owien, Jerinx (susah amat sih namanya), account Telur, maupun penyebar hoax lainnya. Ucapan tersebut lebih cocok apabila diucapkan kepada para nakes yang berjuang tanpa henti, driver ambulance (baik yang memang driver ambulance maupun volunteer), donor plasma darah, toko obat dan penjual alat kesehatan yang tidak menaikkan harga dengan sangat tinggi, ojek online, abang paket, dan masih banyak yang lainnya. Tolong lah sadar, covid ini nyata dan berbahaya.

Kalian yang merasa dicovidkan. Hey, kalian ke rumah sakit tentunya karena sudah merasa ada gejala kan? Lalu kenapa menyangkal dan merasa dicovidkan? Tidak mau minum obat dan menerima perawatan covid. Covid bukan aib. Bodoh itu aib.

Untuk kalian yang masih tidak mau divaksin dengan alasan takut dimasukkan chip… hello? Aku sih sadar aku tidak sepenting itu sampai harus dimata-matai.

Mengenai vaksin ya. Aku divaksin dengan vaksin AstraZeneca di rumah sakit. Tentu ada KIPInya, sakit kepala seperti habis minum banyak. Namun hanya setengah hari, sisanya sudah tidak sakit kepala lagi. Kok bisa? Ya karena aku minum paracetamol seperti anjuran dokter. Setelah aku pulang dari vaksinasi, aku mandi, makan, minum paracetamol, lalu tidur. Malamnya aku kembali minum paracetamol setelah makan malam. Lalu besok paginya pun minum paracetamol setelah makan pagi.

Bisa kusimpulkan, karena aku sudah divaksin dan mungkin karena ini kali kedua aku dinyatakan positif, aku tidak ada gejala. Jadi kenapa menolak untuk divaksin?

Let’s be smart. Kita pasti bisa melalui pandemi ini dengan menyadari pentingnya taat prokes dan vaksinasi.

Ini adalah hasil PCRku di tanggal 4 Juli 2021

Rencananya aku akan melakukan test PCR lagi di akhir bulan ini. Semoga hasilnya negatif dan aku bisa mendapatkan gelar S2 covid :p just kidding.

+ comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s